Pasar TAC: Antara Revitalisasi Fisik dan Reimajinasi Kehidupan

- Penulis

Jumat, 5 September 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Yulfi Alfikri Noer S. IP., M. AP, Akademisi UIN STS Jambi

Yulfi Alfikri Noer S. IP., M. AP, Akademisi UIN STS Jambi

Oleh: Yulfi Alfikri Noer S. IP., M. AP

Akademisi UIN STS Jambi

Kabarina.com – Pasar bukan sekadar ruang transaksi, melainkan denyut nadi kehidupan sosial dan ekonomi rakyat. Namun, revitalisasi yang semestinya menjadi jalan untuk menghidupkan denyut itu kerap berubah menjadi proyek setengah hati yang justru mematikan kehidupan pasar. Kita bisa belajar dari banyak kasus kegagalan revitalisasi di sejumlah daerah, pasar yang dibangun megah tetapi kehilangan pembeli, pedagang tersingkir karena biaya kios yang tak terjangkau, hingga ruang interaksi sosial yang hilang.

Alih-alih menyejahterakan rakyat kecil, proyek itu malah menjauhkan pasar dari ruhnya sebagai pusat perputaran ekonomi masyarakat. Pertanyaan pun mencuat: apakah revitalisasi Pasar TAC benar-benar realistis dan efektif, atau hanya akan menambah daftar panjang kegagalan revitalisasi pasar di negeri ini?

Pertanyaan tentang masa depan Pasar TAC bukan hanya soal menghidupkan kembali kios-kios yang kosong, melainkan soal bagaimana pasar tradisional bisa bertahan di tengah derasnya arus perubahan zaman. Di Kota Jambi, Pasar TAC yang pernah dielu-elukan sebagai pasar sehat kini justru tampak muram. Bukan karena kehilangan lokasi strategis, melainkan karena kehilangan daya tarik di hati pembeli.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Jambi 2023 menunjukkan bahwa pertumbuhan sektor perdagangan besar dan eceran hanya naik 2,31 persen, lebih lambat dibanding sektor informasi dan komunikasi yang melesat 7,02 persen (BPS Kota Jambi, 2023). Angka ini menandakan satu hal, kebiasaan belanja masyarakat beralih. Masyarakat Jambi kini lebih nyaman mengakses produk lewat ritel modern dan platform digital.

Pandemi COVID-19 mempercepat transformasi ini. Laporan Bank Indonesia Perwakilan Jambi (2022) mencatat transaksi digital meningkat lebih dari 40 persen selama masa pandemi. Pasar TAC, yang mengandalkan keramaian tatap muka, langsung terpukul. Pedagang kehilangan omzet, pembeli enggan datang, dan pasar kehilangan atmosfernya sebagai pusat interaksi sosial.

Baca Juga  Beras Oplosan Viral, Pemprov Jambi Sidak Supermarket dan Pasar Tradisional, 8 Merk di Curigai

Pemerintah Kota Jambi kemudian meluncurkan rencana revitalisasi Pasar TAC. Konsep yang ditawarkan terdengar menjanjikan. Kolaborasi dengan BUMD dan investor swasta, digitalisasi sistem retribusi, perbaikan infrastruktur, serta penguatan citra lewat festival budaya atau ruang kreatif. Namun, pertanyaan krusial tetap menggantung, seberapa realistis gagasan ini diwujudkan?

Di atas kertas, revitalisasi bisa menjadi solusi. Tetapi masalah mendasarnya bukan hanya fisik bangunan, melainkan kebiasaan konsumsi masyarakat. Tanpa lahan parkir yang memadai, pengunjung tetap enggan datang. Tanpa integrasi digital yang serius, Pasar TAC hanya akan jadi replika pasar lama dengan wajah baru.

Contoh dari kota lain sepatutnya jadi cermin. Pasar Santa di Jakarta Selatan pernah nyaris mati suri, tetapi bangkit kembali setelah pemerintah dan komunitas muda menjadikannya ruang kreatif tempat transaksi bertemu budaya dan hiburan.

Pasar TAC pun bisa mengambil pelajaran serupa. Pasar tidak cukup hanya diperbaiki, tapi harus diposisikan ulang sebagai ruang hidup yang relevan dengan generasi sekarang.Tanpa itu, revitalisasi berisiko berhenti sebagai proyek seremonial yang sekadar mempercantik tampilan.

Sejarah Pahit: Belajar dari Revitalisasi yang Gagal

Kegagalan revitalisasi bukan sekadar teori, banyak pasar di Indonesia yang dihitung pekerjaan sukses secara fisik, tapi gagal menjaga pasar sebagai ruang hidup:

• Pasar Turi, Surabaya (2007–2015): Setelah dibangun dengan konsep modern, banyak pedagang lama tak mampu bertahan karena harga kios tinggi dan konflik berkepanjangan antara pengembang, pemerintah, dan pedagang. Pasar legendaris itu pun kehilangan denyut ekonominya.

Baca Juga  Bapemperda Konsultasi ke Kementerian PPPA Pertajam Pembentukan Ranperda Pengarustamaan Gender

• Pasar Johar, Semarang: Usai kebakaran, pasar dibangun kembali secara megah. Sayangnya biaya sewa kios melonjak sehingga gedung besar tampak sepi, sementara pedagang kecil memilih berjualan di pinggir jalan.

• Pasar Klewer, Solo: Pasca revitalisasi, suasanan pasar batik justru kehilangan atmosfirnya. Pengunjung menurun, interaksi sosial memudar, budaya runtuh di tengah gemerlap fisik.

Kegagalan-kegagalan itu menunjukkan bahwa revitalisasi yang hanya mengutamakan struktur fisik dan estetika ternyata tidak cukup tanpa memperhatikan ruang hidup, biaya, dan kebutuhan pedagang serta pengunjung.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS, 2023) menunjukkan bahwa jumlah pasar tradisional di Indonesia terus menurun, sementara pasar modern meningkat 8–10 persen setiap tahun. Laporan AC Nielsen (2022) bahkan mencatat bahwa konsumen kelas menengah kini cenderung beralih ke minimarket dan supermarket karena kenyamanan dan standar pelayanan yang lebih baik. Fakta ini menegaskan, revitalisasi pasar tradisional yang hanya berorientasi pada infrastruktur semata tidak cukup untuk mengembalikan daya tarik. Namun, di tengah banyaknya contoh kegagalan revitalisasi pasar di Indonesia, Jambi memiliki konteks yang tak kalah penting untuk ditinjau. Data menunjukkan peran besar pasar tradisional dalam menopang ekonomi lokal, khususnya di Kota Jambi.

Peran Sentral Pasar Tradisional di Jambi

– Kontribusi sektor perdagangan terhadap PDRB Kota Jambi mencapai 33 % pada 2022. Artinya, sepertiga penggerak ekonomi kota berasal dari sektor ini (https://ruangdata.jambikota.go).

– Jumlah pasar daerah di Jambi tercatat sebanyak 19 unit, 3 di antaranya dikategorikan sebagai pasar sehat, mengindikasikan pentingnya pasar tradisional sebagai infrastruktur ekonomi dan social (https://ruangdata.jambikota.go).

– Pendapatan rata-rata wanita pedagang sayur di Pasar Angso Duo Baru mencapai sekitar Rp 1.54 juta per bulan, sementara pedagang tertentu (seperti penjual sawi, bayam, kangkung) bahkan memperoleh hingga Rp 3.52 juta per bulan, menegaskan pasar sebagai sumber penghidupan rumah tangga yang vital (https://repository.unja.ac.id).

Baca Juga  MPW Pemuda Pancasila Jambi Gelar Rapat Pleno Ke-5, Evaluasi Menyeluruh Keanggotaan

Pasar TAC: Antara Re·vitalisasi dan Reimaginasi

Revitalisasi Pasar TAC jangan berhenti pada rencana perbaikan bangunan dan pengembangan infrastruktur saja. Pasar TAC harus direimajinasikan sebagai ruang hidup yang inklusif, berbudget terjangkau dan ramah bagi semua pelaku ekonomi kecil. Artinya, revitalisasi harus menyentuh aspek keberlanjutan, mulai dari pola manajemen, akses permodalan bagi pedagang, hingga penciptaan atmosfer yang membuat masyarakat nyaman kembali menjadikan pasar sebagai pilihan utama. Tanpa itu semua, pasar hanya akan indah di atas kertas, tetapi kehilangan denyut kehidupan yang sesungguhnya. Untuk mewujudkan keberlanjutan itu, dibutuhkan sinergi yang nyata antara pemerintah, pedagang, dan masyarakat sebagai pengguna utama pasar.

Revitalisasi Pasar TAC bukan semata proyek pemerintah, melainkan panggilan kolektif seluruh warga kota. Pemerintah dituntut konsisten, berani melakukan terobosan dan benar-benar berpihak pada pedagang kecil, sementara masyarakat perlu menumbuhkan kembali kebanggaan berbelanja di pasar rakyat. Jika kolaborasi ini terwujud, Pasar TAC tidak hanya bangkit dari keterpurukan, tetapi juga dapat menjelma menjadi ikon kebangkitan ekonomi kerakyatan Jambi di tengah arus digitalisasi.

Pada akhirnya, Pasar TAC bukan sekadar ruang dagang, melainkan representasi identitas kota, jantung ekonomi rakyat sekaligus ruang kebersamaan sosial. Inilah ujian terbesar, apakah Pasar TAC akan berakhir sebagai monumen kegagalan revitalisasi seperti banyak pasar lain di negeri ini atau justru menjadi simbol masa depan ekonomi rakyat yang inklusif, berdaya saing, dan berkeadilan.

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Gubernur Al Haris dan Wamen ESDM Tinjau Sumur Minyak Rakyat, Dorong Pengelolaan Legal dan Berkelanjutan
Strategi Penyelamatan Aset Daerah, Siginjai Sakti Dorong JCC Kembali Produktif
DPC Gerindra Tebo Tegaskan Dukung Penuh Program Presiden Prabowo, DPD Gerindra Jambi dan Program Tebo Maju
Malam Anugerah Kampung Adat 2025, Wali Kota Jambi Dorong Budaya Jadi Destinasi Wisata
Rembug Warga Rt 39 dan JPC Capai Kesepakatan, Musyawarah Jadi Kunci Harmoni Investasi
Dialog Warga RT 39 dan Jambi Padel Court Berbuah Kesepakatan, Kolaborasi Jadi Solusi
Reses di Singkut, Cek Endra Bersama Wabup Gerry Kawal Desa Sido Mukti Definitif dan Akses KUR untuk Warga
Baru Seminggu, Jalan Rp1,2 Miliar di Tanjab Barat Sudah Retak dan Bergelombang, Kontraktor Tak Jelas, PUPR Bungkam

Berita Terkait

Rabu, 31 Desember 2025 - 17:30 WIB

Gubernur Al Haris dan Wamen ESDM Tinjau Sumur Minyak Rakyat, Dorong Pengelolaan Legal dan Berkelanjutan

Sabtu, 27 Desember 2025 - 15:08 WIB

DPC Gerindra Tebo Tegaskan Dukung Penuh Program Presiden Prabowo, DPD Gerindra Jambi dan Program Tebo Maju

Jumat, 26 Desember 2025 - 23:21 WIB

Malam Anugerah Kampung Adat 2025, Wali Kota Jambi Dorong Budaya Jadi Destinasi Wisata

Jumat, 26 Desember 2025 - 19:23 WIB

Rembug Warga Rt 39 dan JPC Capai Kesepakatan, Musyawarah Jadi Kunci Harmoni Investasi

Kamis, 25 Desember 2025 - 13:03 WIB

Dialog Warga RT 39 dan Jambi Padel Court Berbuah Kesepakatan, Kolaborasi Jadi Solusi

Pos Terbaru